Modul 4 - Project
[KEMBALI KE MENU SEBELUMNYA]
KELOMPOK 3
MODUL IV
Sistem Monitoring Kesehatan Baterai PLTS sebagai Media Edukasi dan Pemeliharaan Pencegahan Kerusakan di Batu Busuk, Kota Padang
Perkembangan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi terbarukan terus meningkat, termasuk pada wilayah dengan potensi penyinaran matahari yang tinggi seperti Batu Busuk, Kota Padang. Salah satu komponen utama yang menentukan keberhasilan dan kontinuitas operasi sistem PLTS adalah baterai sebagai media penyimpanan energi listrik. Baterai pada sistem PLTS bekerja secara siklus melalui proses pengisian dan pelepasan energi sehingga mengalami penurunan performa seiring waktu. Parameter seperti tegangan, arus, suhu, kapasitas penyimpanan, State of Charge (SOC), dan State of Health (SOH) menjadi indikator penting untuk mengetahui kondisi kesehatan baterai. Apabila kondisi baterai tidak dipantau secara berkala, maka dapat terjadi penurunan efisiensi, percepatan degradasi sel, overcharge, overdischarge, peningkatan temperatur, hingga kerusakan permanen yang berdampak pada umur pakai sistem PLTS secara keseluruhan. Pada penelitian ini digunakan baterai GR-LT-25.6-100 sebagai objek pemantauan karena baterai tersebut banyak digunakan pada sistem penyimpanan energi bertegangan menengah dengan kapasitas yang cukup besar untuk aplikasi PLTS.
Meskipun penggunaan PLTS mulai berkembang di lingkungan masyarakat, tingkat edukasi dan pemahaman mengenai pemeliharaan baterai masih relatif terbatas. Sebagian besar pengguna hanya memanfaatkan energi yang dihasilkan tanpa mengetahui kondisi internal baterai secara aktual. Pemeliharaan sering dilakukan secara reaktif setelah terjadi penurunan performa atau kerusakan, bukan berdasarkan kondisi operasional yang terukur. Di wilayah seperti Batu Busuk, keterbatasan akses terhadap sistem monitoring, minimnya media pembelajaran interaktif, serta kurangnya informasi mengenai indikator kesehatan baterai menyebabkan masyarakat belum memiliki kebiasaan melakukan pemantauan secara preventif. Akibatnya, potensi kerusakan baterai meningkat dan biaya penggantian menjadi lebih besar dibandingkan biaya pemeliharaan sejak dini.
Salah satu alternatif solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah pengembangan sistem monitoring kesehatan baterai berbasis mikrokontroler yang mampu melakukan pengukuran parameter baterai secara real-time. Sistem monitoring memungkinkan pengguna memperoleh informasi kondisi baterai secara langsung sehingga tindakan pemeliharaan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Dengan memanfaatkan teknologi sensor dan pengolahan data digital, parameter operasional baterai dapat diolah menjadi informasi yang mudah dipahami, seperti persentase kapasitas baterai, tingkat kesehatan baterai, dan kondisi temperatur kerja. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keandalan sistem PLTS tetapi juga mendukung konsep pemeliharaan berbasis kondisi (condition-based maintenance).
Berdasarkan kebutuhan tersebut, pada proyek praktikum mikroprosesor dan mikrokontroler ini dirancang Sistem Monitoring Kesehatan Baterai PLTS sebagai Media Edukasi dan Pemeliharaan Pencegahan Kerusakan di Batu Busuk, Kota Padang. Sistem yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantauan teknis, tetapi juga sebagai media edukasi bagi masyarakat untuk memahami perilaku kerja baterai PLTS. Informasi yang ditampilkan secara langsung melalui antarmuka sistem diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pengguna terhadap pentingnya pengawasan kondisi baterai. Selain itu, sistem ini dirancang agar dapat menjadi alternatif pembelajaran praktis mengenai hubungan antara perubahan parameter listrik dan kondisi kesehatan baterai sehingga mendukung penerapan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan.
Implementasi sistem dilakukan dengan memanfaatkan kombinasi sensor, aktuator, dan pengendali utama yang saling terintegrasi. Mikrokontroler STM32 digunakan sebagai pusat pemrosesan data dan pengendali sistem. Sensor INA219 digunakan untuk membaca arus, tegangan, serta menghitung daya baterai sehingga mendukung estimasi nilai SOC dan SOH. Sensor suhu inframerah GY-906 MLX90614 digunakan untuk melakukan pengukuran temperatur baterai tanpa kontak langsung guna mengurangi risiko gangguan terhadap sistem. Sensor tegangan DC F031-06 dimanfaatkan untuk memperoleh data tegangan baterai secara kontinu sebagai indikator kondisi pengisian dan pelepasan energi. Hasil pembacaan ditampilkan pada LCD LM016L secara real-time sehingga mudah dipahami pengguna. Selain itu, sistem dilengkapi LED indikator dan buzzer sebagai aktuator peringatan ketika parameter baterai berada di luar batas aman, seperti suhu berlebih, penurunan SOH, atau kondisi tegangan abnormal. Integrasi seluruh komponen tersebut diharapkan mampu menghasilkan sistem monitoring yang sederhana, edukatif, dan mendukung pemeliharaan pencegahan pada baterai PLTS.
Tujuan
- Merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring kesehatan baterai PLTS berbasis mikrokontroler untuk melakukan pembacaan kondisi baterai secara real-time melalui parameter tegangan, daya, dan suhu.
- Mengembangkan sistem edukasi pemeliharaan baterai yang mampu menampilkan informasi kondisi operasional dan kesehatan baterai melalui media tampilan sehingga pengguna dapat memahami perubahan kondisi baterai selama penggunaan.
- Membangun mekanisme peringatan otomatis menggunakan aktuator berupa indikator visual dan audio sebagai sarana deteksi dini untuk mendukung pemeliharaan pencegahan dan mengurangi potensi kerusakan baterai.
3.1 Alat dan Bahan
Komponen
1.STM32F103C8T6
A.Tabel rentang kerja
B. Tabel batas Input
C. Tabel batas Output
D. Grafik
2. Sensor MLX90614
Grafik respon
3. Sensor Daya INA 219
A.Tabel rentang kerja
B. Tabel batas input dan output
C.Grafik
4. Sensor Tegangan F031-O6
A.Tabel batas rentang kerja
B.tabel batas input
C.Tabel batas output
D.Grafik
5. Baterai Baterai GR-LT-25.6-100
6. Breadboard

2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan sistem pembangkit energi listrik yang memanfaatkan energi radiasi matahari melalui panel surya (photovoltaic) untuk menghasilkan energi listrik. Energi yang dihasilkan panel surya berbentuk arus searah (DC) dan dapat langsung digunakan sebagai sumber daya maupun disimpan ke dalam baterai untuk digunakan pada waktu tertentu.
Sistem PLTS umumnya terdiri dari beberapa komponen utama yaitu panel surya, solar charge controller, baterai penyimpanan energi, inverter, dan beban. Dalam sistem penyimpanan energi, baterai berfungsi menyimpan energi hasil konversi panel surya sehingga kontinuitas suplai listrik tetap terjaga ketika intensitas matahari menurun.
Secara umum, daya keluaran panel surya dapat dihitung menggunakan persamaan:
Keterangan:
P = daya (W)
V = tegangan (Volt)
I = arus (Ampere)
2.2 Sistem Monitoring Kesehatan Baterai
Sistem monitoring kesehatan baterai merupakan sistem yang digunakan untuk memantau kondisi operasional baterai secara real-time berdasarkan parameter tertentu sehingga kondisi baterai dapat diketahui sebelum terjadi kerusakan.
Parameter utama yang digunakan dalam pemantauan kesehatan baterai meliputi:
- Tegangan baterai (Voltage)
- Arus baterai (Current)
- Daya baterai (Power)
- Temperatur baterai (Temperature)
- State of Charge (SOC)
- State of Health (SOH)
Melalui pemantauan parameter tersebut, pengguna dapat melakukan tindakan pemeliharaan preventif sehingga umur baterai dapat dipertahankan.
2.3 Baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO₄)
Baterai GR-LT-25.6-100 yang digunakan pada project ini termasuk jenis Lithium Iron Phosphate (LiFePO₄) dengan tegangan nominal 25,6 V dan kapasitas 100 Ah.
Baterai LiFePO₄ memiliki beberapa keunggulan:
- Umur siklus panjang
- Stabilitas termal tinggi
- Efisiensi pengisian yang baik
- Tingkat keamanan lebih tinggi
- Perawatan relatif rendah
Karakteristik umum baterai:
Energi tersimpan baterai:
atau:
2.4 Mikrokontroler STM32
STM32 merupakan keluarga mikrokontroler berbasis ARM Cortex-M yang memiliki kemampuan pemrosesan tinggi dengan konsumsi daya rendah.
Pada project ini STM32 digunakan sebagai pusat pengendali sistem yang bertugas:
- Membaca data sensor
- Mengolah data pengukuran
- Menghitung SOC dan SOH
- Menampilkan hasil pada LCD
- Mengendalikan LED dan buzzer
Keunggulan STM32:
- Clock tinggi
- ADC presisi tinggi
- Mendukung komunikasi I2C, UART, SPI
- Konsumsi daya rendah
2.5 Sensor INA219
INA219 merupakan sensor digital yang digunakan untuk mengukur arus, tegangan, dan daya DC.
Sensor ini bekerja menggunakan metode pengukuran shunt resistor, yaitu membaca beda tegangan pada resistor kecil untuk memperoleh nilai arus.
Perhitungan arus:
Perhitungan daya:
Pada project ini INA219 digunakan untuk memonitor konsumsi energi baterai secara real-time.
Grafik sensor INA219
2.6 Sensor Suhu MLX90614
MLX90614 merupakan sensor suhu inframerah non-kontak yang bekerja dengan membaca radiasi inframerah dari objek.
Keunggulan sensor:
- Pengukuran tanpa kontak
- Respon cepat
- Akurasi tinggi
- Komunikasi digital I2C
Rentang pengukuran:
Pada project ini sensor digunakan untuk membaca suhu permukaan baterai sehingga kenaikan temperatur dapat terdeteksi lebih awal.
2.7 Sensor Tegangan DC F031-06
Sensor tegangan DC F031-06 digunakan untuk membaca tegangan baterai dan mengubah tegangan tinggi menjadi level aman untuk dibaca ADC mikrokontroler.
Prinsip kerja sensor menggunakan rangkaian pembagi tegangan (voltage divider).
Persamaan:
Sensor ini digunakan untuk mengetahui kondisi pengisian dan pelepasan baterai.
2.8 Komunikasi I2C (Inter Integrated Circuit)
I2C merupakan protokol komunikasi serial yang menggunakan dua jalur komunikasi:
- SDA (Serial Data)
- SCL (Serial Clock)
Pada project ini komunikasi I2C digunakan antara:
- STM32 ↔ INA219
- STM32 ↔ MLX90614
Keunggulan I2C:
- Jumlah kabel sedikit
- Komunikasi cepat
- Mendukung banyak perangkat
2.9 State of Charge (SOC)
State of Charge (SOC) merupakan parameter yang menunjukkan persentase kapasitas energi baterai yang masih tersedia.
Rumus pendekatan:
Keterangan:
SOC = kapasitas baterai (%)
Vnow = tegangan saat ini
Vmax = tegangan penuh
Vmin = tegangan minimum
Interpretasi SOC:
- 80–100% → penuh
- 50–80% → normal
- <50% → perlu pengisian
2.10 State of Health (SOH)
State of Health (SOH) menunjukkan tingkat kesehatan baterai dibanding kapasitas awalnya.
Rumus:
Interpretasi:
- SOH > 80% → kondisi baik
- SOH 60–80% → mulai menurun
- SOH < 60% → perlu penggantian
2.11 LCD 16×2
LCD 16×2 merupakan perangkat tampilan yang digunakan untuk menampilkan informasi secara real-time.
Pada project ini LCD digunakan untuk menampilkan:
- Tegangan baterai
- Arus
- Daya
- Suhu
- SOC
- SOH
2.12 LED dan Buzzer
LED digunakan sebagai indikator visual kondisi sistem.
Fungsi pada project:
- LED Biru → indikator kondisi tegangan
- LED Merah → indikator kondisi kesehatan baterai
- Buzzer → alarm ketika suhu melewati batas aman
2.13 Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance)
Preventive maintenance merupakan metode pemeliharaan yang dilakukan sebelum terjadi kerusakan melalui kegiatan inspeksi dan pemantauan kondisi peralatan.
Dalam project ini, preventive maintenance dilakukan dengan:
- Monitoring suhu baterai
- Monitoring tegangan
- Monitoring kapasitas
- Sistem alarm dini
Tujuannya adalah memperpanjang umur baterai dan mengurangi risiko kegagalan sistem PLTS.
5. Flowchart dan Listing Program[Kembali]
Flowchart sistem menggambarkan urutan kerja perangkat lunak yang berjalan pada mikrokontroler STM32 selama proses monitoring berlangsung. Sistem diawali dengan proses inisialisasi seluruh modul yang terdiri dari LCD, sensor suhu MLX90614, sensor daya INA219, dan sensor tegangan DC. Tahap inisialisasi bertujuan memastikan setiap perangkat dapat berkomunikasi dan berada pada kondisi siap operasi sebelum pengambilan data dimulai.
Setelah proses awal selesai, sistem melakukan pembacaan data suhu menggunakan sensor MLX90614 melalui komunikasi I2C. Data suhu yang diperoleh kemudian diproses dan ditampilkan secara real-time pada LCD. Pada tahap ini sistem juga melakukan evaluasi kondisi suhu untuk menentukan apakah diperlukan aktivasi buzzer sebagai indikator peringatan kepada pengguna. Mekanisme tersebut digunakan sebagai bentuk pemeliharaan preventif agar pengguna mengetahui adanya perubahan kondisi termal pada baterai.
Secara paralel, sistem melakukan inisialisasi dan pembacaan sensor INA219. Sensor ini mengambil informasi listrik berupa tegangan dan arus yang kemudian digunakan untuk memperoleh daya serta menjadi dasar perhitungan kondisi kapasitas baterai atau State of Charge (SOC). Hasil pengolahan ditampilkan pada antarmuka sehingga pengguna dapat memantau kondisi penggunaan energi baterai secara langsung.
Selain itu, sistem juga membaca nilai tegangan melalui sensor DC F031-06. Informasi tegangan digunakan sebagai parameter tambahan untuk mengevaluasi kondisi operasional baterai. Data tersebut kemudian diproses untuk menghasilkan estimasi kondisi kesehatan baterai atau State of Health (SOH). Hasil perhitungan ditampilkan pada LCD agar pengguna memperoleh gambaran kondisi baterai secara menyeluruh.
Sebagai mekanisme peringatan, sistem mengendalikan LED indikator dan buzzer sebagai aktuator. LED digunakan untuk memberikan indikasi visual terhadap kondisi tertentu yang terdeteksi sistem, sedangkan buzzer menghasilkan indikator audio agar perubahan kondisi dapat diketahui secara cepat. Seluruh proses berlangsung berulang secara kontinu sehingga monitoring dapat dilakukan secara real-time.
Listing program
6. Rangkaian dan Prinsip Kerja[Kembali]
Prinsip kerja
Rangkaian simulasi pada Proteus dirancang sebagai representasi sistem monitoring kesehatan baterai PLTS berbasis mikrokontroler STM32. Seluruh komponen diintegrasikan untuk membentuk alur akuisisi data, pemrosesan, dan pemberian informasi kondisi baterai kepada pengguna.
Sumber utama sistem berasal dari baterai PLTS GR-LT-25.6-100 yang menjadi objek pemantauan. Tegangan keluaran baterai diteruskan menuju jalur pengukuran dan beban pengujian berupa lampu. Pada jalur tersebut dipasang resistor shunt yang digunakan oleh sensor INA219 untuk memperoleh data arus yang mengalir pada rangkaian. Sensor INA219 terhubung ke STM32 menggunakan komunikasi I2C melalui jalur SDA dan SCL yang dilengkapi resistor pull-up agar transmisi data berlangsung stabil. Dari hasil pengukuran arus dan tegangan, sistem memperoleh informasi daya yang kemudian digunakan sebagai dasar evaluasi kondisi baterai.
Pengukuran suhu dilakukan menggunakan sensor GY-906 MLX90614 yang bekerja secara inframerah tanpa kontak langsung dengan permukaan baterai. Sensor ini juga menggunakan komunikasi I2C sehingga dapat berbagi jalur komunikasi dengan INA219. Metode non-kontak dipilih untuk menjaga kestabilan pembacaan dan meminimalkan pengaruh pemasangan sensor terhadap kondisi fisik baterai. Data suhu yang diperoleh diproses oleh mikrokontroler dan digunakan sebagai indikator kondisi termal baterai selama operasi.
Selain pengukuran daya dan suhu, sistem menggunakan sensor tegangan DC F031-06 untuk memperoleh data tegangan baterai secara kontinu. Sensor ini memberikan sinyal yang kemudian dibaca oleh STM32 sebagai dasar pemantauan kondisi kerja baterai. Informasi tegangan digunakan bersamaan dengan parameter lain untuk membentuk indikator kesehatan baterai yang ditampilkan kepada pengguna.
Sebagai media interaksi pengguna, sistem menggunakan LCD LM016L yang berfungsi menampilkan parameter monitoring secara real-time. LCD bekerja pada mode komunikasi paralel dan menerima perintah serta data karakter dari STM32. Pengguna dapat melihat informasi kondisi baterai secara langsung tanpa memerlukan perangkat tambahan.
Bagian keluaran sistem terdiri dari LED indikator dan buzzer yang dikendalikan melalui transistor sebagai penguat saklar. Ketika sistem mendeteksi kondisi tertentu berdasarkan hasil pengolahan data sensor, mikrokontroler mengaktifkan aktuator untuk memberikan peringatan visual maupun audio. Dengan integrasi tersebut, rangkaian Proteus tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai sistem edukasi dan pemeliharaan pencegahan terhadap kondisi kesehatan baterai PLTS.
Komentar
Posting Komentar